Media sosial telah berkembang pesat sejak awal kemunculannya, dengan tren-tren baru yang terus muncul dan berkembang. Dari masa awal MySpace dan Friendster hingga dominasi platform seperti Instagram dan TikTok, media sosial telah menjadi bagian integral dari kehidupan kita, membentuk cara kita berkomunikasi, berbagi informasi, dan terhubung dengan orang lain.
Salah satu tren paling menonjol yang muncul dalam beberapa tahun terakhir adalah maraknya selfie. Awalnya merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan potret diri yang diambil dengan kamera, kini selfie telah menjadi bentuk ekspresi diri yang umum di media sosial. Mulai dari selebritas hingga pengguna sehari-hari, orang-orang di seluruh dunia terus-menerus mengambil foto selfie dan membagikannya secara online, sering kali dengan tujuan menampilkan sudut pandang, pakaian, atau pengalaman terbaik mereka.
Namun seiring dengan meningkatnya kegemaran selfie, muncul tren baru yang membawa promosi diri ke tingkat yang baru: sultanking. Diciptakan oleh influencer media sosial dan dipopulerkan di platform seperti Instagram, sultanking mengacu pada praktik berpose dengan cara meniru sikap anggun dan percaya diri seorang sultan atau ratu. Tren ini mendapatkan daya tarik di kalangan influencer dan selebritas yang ingin menyampaikan kesan berkuasa, mewah, dan berwibawa dalam postingan media sosial mereka.
Meskipun merajuk mungkin tampak seperti sekadar tren media sosial, hal ini sebenarnya menunjukkan perubahan yang lebih besar dalam cara kita menampilkan diri di dunia maya. Di era di mana personal branding dan kurasi citra menjadi semakin penting, semakin banyak orang yang menggunakan media sosial untuk merancang versi diri mereka sendiri yang mencerminkan aspirasi, nilai, dan keinginan mereka.
Namun seperti tren lainnya, sultanking mempunyai kritiknya sendiri. Ada yang berpendapat bahwa hal ini mempromosikan cita-cita kecantikan dan kesuksesan yang dangkal dan tidak realistis, sementara ada pula yang mempertanyakan keaslian kepribadian yang diproyeksikan oleh influencer secara online. Di dunia di mana metrik suka, pengikut, dan keterlibatan sering kali menentukan rasa harga diri kita, penting untuk diingat bahwa media sosial hanyalah sorotan dalam hidup kita, bukan representasi akurat tentang siapa kita sebagai individu.
Terlepas dari kontroversi seputar sultanking dan tren media sosial lainnya, satu hal yang jelas: media sosial akan terus berkembang dan membentuk cara kita berinteraksi dengan dunia di sekitar kita. Baik melalui selfie, sultan, atau bentuk ekspresi diri lainnya, kita terus-menerus menemukan cara baru untuk terhubung, berkomunikasi, dan berbagi cerita dengan orang lain. Dan selama kita mendekati media sosial dengan pandangan kritis dan skeptisisme yang sehat, kita dapat menavigasi tren ini dengan anggun dan autentik.